Home / Berita / BELAJAR BERSYUKUR DARI SAWIT

BELAJAR BERSYUKUR DARI SAWIT

Oleh PURWANTO, SH

Penyuluh Agama Islam Fungsional

la`in syakartum la`aziidannakum wa la`ing kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.

Kutipan firman Allah diatas sangat cocok untuk di jadikan iktibar buat kita para petani sawit khususnya, karena jika dilihat satu tahun terakhir ini harga sawit selalu memacu andrenalin para petani sawit dengan naik turunnya harga sawit.

Sebelumnya harga sawit sempat mencapai puncaknya dikisaran 3000an kesejahteraan para petani sawit pun meningkat tajam yang tentunya berdampak pada kesejahteraan masyarakat secara umum. Tentu kita semua masih ingat berita di media yang mengabarkan disebuah daerah para petani berlomba-lomba membeli kendaraan roda empat sampai-sampai pihak sorum kehabisan stok kendaraan. Naiknya harga sawit selain memiliki dampak positif secara umum juga memiliki dampak yang tidak baik hal ini di sebabkan karena berimbas pada kenaikan sembako terutama minyak goreng.

Kenaikan harga sawit yang sempat membuat tersenyum para petani sawit ternyata tidak bertahan begitu lama karena kebijakan pemerintah yang menutup ekspor CPO keluar negeri dengan alasan untuk mengendalikan harga minyak goreng. Namun demikian setelah kebijakan dibuat tidak mampu menurunkan harga minyak goreng, dalam ini lagi-lagi petani dan masyarakat secara umum dirugikan tentunya. Lebih parahnya setelah ekspor dibuka kembali bukannya harga sawit naik malah semakin turun hingga keharga 1000 di tinggkat petani.

Lantas semua ini salah siapa? Mungkin pemerintah telah berupaya untuk menormalkan harga sawit dan sembako khusunya minyak secara bersama dengan tujuan menjaga keseimbangan, karena kalau harga sawit tinggi dan minyak goreng tinggi ada masyarakat yang secara umum mengalami kesulitan menjangkau harga minyak goreng, namun kalau harga sawit normal dan harga minyak goreng standar sama-sama akan bahagia tapi kenyataannya sekarang harga sawit turun, harga sembako naik tajam khususnya minyak goreng, dan lagi-lagi petani dan masyarakat umum yang dirugikan. Lantas ini salah siapa… jawaban yang cocok tentunya, ini bukan salah siapa-siapa. Ini adalah ujian.

Sikap Kita Sebagai Muslim.

Banyak yang mengartikan ujian itu sebatas musibah seperti kematian, kecelakaan atau kejadian yang secara fisik dapat dilihat itu sebuah penderitaan padahal kenikmatan berupa kekayaan, kebun yang luas, kendaraan yang bagus, rumah yang mewah, istri dan anak-anak yang Allah berikan kepada manusia itu bisa menjadi sebuah ujian.

Harga sawit yang tinggi tentu bagi kita seorang muslim itu merupakan ujian kenikmatan yang harus kita syukuri, lantas bagaimana cara terbaik syukur nikmat dalam harta? Tentunya cara yang terbaik adalah dengan cara ber BAGI !!! Islam telah mengajarkan cara berbagi dengan berbagai model dari zakat yang hukumnya wajib, infak, sodaqoh, Wakaf yang hukumnya sunah. Perntanyaan, apakah ketika harga sawit tinggi kita sudah bersyukur dengan cara ber BAGI???. Bukankah Allah telah berjanji yang pasti akan Allah tepati, la`in syakartum la`aziidannakum wa la`ing kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid. Allah juga menegaskan lagi dalam Firmannya

“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah: 152)

Sekarang ketika harga sawit turun kita sebagai orang muslim tentunya harus bersabar. Sabar termasuk bagian dari kesempurnaan tauhid. Sabar termasuk kewajiban yang harus ditunaikan oleh hamba, sehingga ia pun bersabar menanggung ketentuan takdir Allah termasuk takdir menghadapi harga sawit yang lagi turun. Ungkapan rasa marah, menyalahkan pemerintah itulah yang banyak muncul dalam diri orang-orang tatkala mereka mendapatkan ujian berupa harga sawit turun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Dan ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu beriringan dengan kesabaran. Jalan keluar beriringan dengan kesukaran. Dan sesudah kesulitan itu akan datang kemudahan.” (Hadits riwayat Abdu bin Humaid di dalam Musnad-nya dengan nomor 636, Ad Durrah As Salafiyyah hal. 148).

Renungan malam 23.06 , 22 Juni 2022

x

Check Also

MTQ Ke-35 Provinsi Aceh, Bener Meriah.Kunjungi Kafilah Kabupaten Aceh Singkil, Ini Harapan Yahwa

Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Aceh Singkil, H. Saifuddin, SE mengunjungi kafilah Kabupaten Aceh Singkil yang ikut serta dalam MTQ ke-35 ...